Mengenal 11 Tembang Macapat: Aturan Paugeran, Makna Filosofis, dan Contohnya
⚡ Inti Panduan Cepat:
Tembang macapat itu puisi tradisional Jawa yang punya rumus baku paten bernama guru gatra lagu wilangan — yaitu jumlah baris, bunyi vokal akhir, dan hitungan suku kata di tiap larik. Setiap pupuh juga punya watak tembang macapat yang unik, mulai dari yang sedih, mesra, sampai tegas.
Urutan 11 tembang macapat (dari Maskumambang sampai Pocung) melambangkan siklus perjalanan manusia dari alam kandungan sampai meninggal. Di halaman ini, kamu bisa baca tabel paugeran lengkap, cek rumus lewat kalkulator otomatis, atau ubah lirik tembang ke aksara Jawa di NulisAksara.id.
Apa Itu Tembang Macapat? (Pengertian & Filosofi)
Tembang macapat adalah puisi klasik bahasa Jawa yang susunan baitnya terikat ketat sama paugeran (aturan) suku kata dan rima vokal akhir. Istilah macapat sendiri umumnya diartikan dari frasa maca pat-pat — artinya cara melagukan liriknya diputus dengan jeda empat suku kata di setiap ketukan napas.
Waktu Bayu masih sekolah di Jogja dulu, momen pelajaran muatan lokal nembang macapat di depan kelas selalu jadi momok yang bikin deg-degan. Suara sering tiba-tiba fales gara-gara grogi ditonton teman sekelas, apalagi jarinya sibuk ngitung jumlah suku kata di bawah meja biar nggak kelebihan. Tapi pas udah kuliah di Sastra Nusantara UGM dan bedah naskah aslinya, Bayu baru sadar kalau 11 tembang macapat ini sebenarnya karya sastra jenius: leluhur Jawa merangkum seluruh filosofi kehidupan manusia dari lahir sampai mati cuma lewat susunan 11 tembang bertahap.
Tiga Aturan Wajib (Guru Gatra, Wilangan & Lagu)
Tiga aturan paten yang wajib ada di setiap tembang macapat disebut paugeran — isinya ada guru gatra (jumlah baris per bait), guru wilangan (jumlah suku kata tiap baris), dan guru lagu (huruf vokal terakhir di ujung baris).
Beda sama geguritan modern yang bebas tanpa ikatan metrum, nulis tembang macapat itu mirip ngerjain soal matematika berirama. Kalau salah satu suku kata aja meleset atau bunyi vokal akhirnya salah, bait tembang itu langsung gugur dan nggak sah. Biar gampang nempel di kepala, ini detail ketiga paugeran tersebut:
- Guru Gatra: Berapa jumlah larik (baris kalimat) dalam satu bait tembang.
- Guru Wilangan: Berapa hitungan suku kata (cacahing wanda) di tiap-tiap baris.
- Guru Lagu: Bunyi vokal terakhir (a, i, u, e, o / dhong-dhing) pas baris itu selesai diucapkan.
Ambil contoh tembang Pocung dengan rumus 12u, 6a, 8i, 12a. Artinya: baris pertama isinya 12 suku kata berakhiran vokal 'u', baris kedua 6 suku kata berakhiran vokal 'a', baris ketiga 8 suku kata berakhiran 'i', dan baris keempat ditutup 12 suku kata berakhiran 'a'. Gampang kan logikanya?
Tabel Lengkap 11 Tembang Macapat: Paugeran, Watak, dan Sifatnya
Biar kamu nggak bingung pas ngerjain lembar tugas sekolah atau kuis sastra daerah, Bayu udah rangkum seluruh 11 tembang macapat ke dalam satu tabel ringkas di bawah ini:
| No | Nama Tembang | Guru Gatra | Guru Wilangan & Guru Lagu | Watak / Sifat Tembang |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Maskumambang | 4 gatra | 12i, 6a, 8i, 8a | Nelangsa, prihatin, sedih, iba rasa hati |
| 2 | Mijil | 6 gatra | 10i, 6o, 10e, 10i, 6i, 6u | Keterbukaan, lembut, penuh kasih sayang anak |
| 3 | Sinom | 9 gatra | 8a, 8i, 8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a | Lincah, gembira, cocok untuk memberi wejangan pemuda |
| 4 | Kinanthi | 6 gatra | 8u, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i | Mesra, penuh rasa cinta, bimbingan kasih orang tua |
| 5 | Asmaradana | 7 gatra | 8i, 8a, 8e/o, 8a, 7a, 8u, 8a | Asmara, rindu terpendam, gelora cinta muda-mudi |
| 6 | Gambuh | 5 gatra | 7u, 10u, 12i, 8u, 8o | Akrab, bersahabat, cocok untuk nasihat kekeluargaan |
| 7 | Dhandhanggula | 10 gatra | 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, 7a | Manis, luwes, keindahan puncak kejayaan hidup |
| 8 | Durma | 7 gatra | 12a, 7i, 6a, 7a, 8i, 5a, 7i | Tegas, keras, berani, kobaran semangat perjuangan |
| 9 | Pangkur | 7 gatra | 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i | Mungkur (mundur), bijak mengendalikan hawa nafsu |
| 10 | Megatruh | 5 gatra | 12u, 8i, 8u, 8i, 8o | Sedih mendalam, duka, perpisahan ruh dari jasad |
| 11 | Pocung | 4 gatra | 12u, 6a, 8i, 12a | Santai, jenaka, tebak-tebakan, pengingat kematian |
Baca juga:
Urutan 11 Tembang Macapat Berdasarkan Daur Hidup
Urutan 11 tembang macapat itu sebenarnya bukan asal susun. Orang Jawa kuno nyusunnya runtut kayak alur cerita film: dari embrio ngambang di rahim ibu, puber, jatuh cinta, nikah, sampai akhirnya dikubur.
Daripada ngafal mati nama-namanya satu per satu yang rawan bikin ketuker waktu ujian, pahami aja alur daur hidupnya ini:
- Maskumambang: Ceritanya berawal pas calon bayi masih jadi embrio di perut ibu — kata kumambang artinya ngambang atau terapung.
- Mijil: Waktunya bayi lahir ke dunia (wijil artinya metu atau keluar).
- Sinom: Masuk usia remaja atau puber. Dinamai sinom gara-gara mirip pucuk daun asam muda yang warnanya hijau cerah, lagi aktif-aktifnya nyari jati diri.
- Kinanthi: Anak remaja kan emosinya masih labil, makanya butuh dikanthi — digandeng dan dibimbing orang tua biar nggak salah jalan. Di fase ini sering diselipin pepatah bijak kayak paribasan bahasa Jawa biar perilakunya terjaga.
- Asmaradana: Mulai kenal cinta monyet terus kasmaran sama lawan jenis.
- Gambuh: Hubungannya makin mantap sampai akhirnya cocok (sarujuk) terus lanjut nikah.
- Dhandhanggula: Masa-masa manisnya berumah tangga pas rezeki lagi mapan.
- Durma: Hidup nggak selamanya mulus. Pasti ada cobaan hidup, gesekan rumah tangga, atau godaan emosi yang kudu dilawan dengan sabar.
- Pangkur: Rambut mulai putih, tenaga mulai berkurang. Waktunya mungkur alias pelan-pelan mundur dari ambisi duniawi buat fokus ibadah.
- Megatruh: Ajal datang menjemput — kata megat artinya putus, ruh artinya nyawa. Roh pisah dari raga.
- Pocung: Ujung-ujungnya jasad cuma dibungkus mori putih (dipocong). Mau sepintar atau sekaya apa pun di dunia, pas mati nggak bawa harta apa-apa ke kuburan.
💡 Trik Ingatan Kilat:
Kuncinya cuma dua: awalannya Maskumambang (ngambang di rahim), ujungnya Pocung (dikafani). Kalau alur ceritanya nempel di kepala, kamu nggak bakal bingung lagi pas ada soal mengurutkan 11 tembang macapat di kertas ujian.
Contoh Tembang Macapat Populer & Penulisan Aksara Jawanya
Mau nyanyiin atau nulis buat tugas sekolah? Simak 3 contoh tembang macapat yang paling sering keluar dalam lembar ujian berikut:
1. Contoh Tembang Pocung (Bapak Pucung)
12u, 6a, 8i, 12aBapak pucung dudu watu dudu gunung (12u)
Sabamu ing alas (6a)
Ngon-ingone sang Bupati (8i)
Prapteng marga si pucung lembehan grana (12a)
Tebak Cangkriman: Ini tebak-tebakan kuno. Jawabannya Gajah — baris terakhir nyebut lembehan grana yang artinya hidung melambai alias belalai.
2. Contoh Tembang Kinanthi (Serat Wulangreh)
8u, 8i, 8a, 8i, 8a, 8iPadha gulangen ing kalbu (8u)
Ing sasmita amrih lantip (8i)
Aja sira ngunggung dhiri (8a)
Kudu andhap asor ugi (8i)
Den eling marang hyang agung (8a)
Supaya slamet ing urip (8i)
Inti Nasihat: Latih kepekaan batin biar nggak gampang sombong, selalu rendah hati (andhap asor), dan rajin ingat Tuhan biar selamat hidupnya.
3. Contoh Tembang Gambuh (Nasihat Kehidupan)
7u, 10u, 12i, 8u, 8oSekar gambuh ping catur (7u)
Kang cinatur polah kang kalantur (10u)
Tanpa tutur katula-tula katali (12i)
Kadaluwarsa katutuh (8u)
Kapatuh pan dadi awon (8o)
Inti Nasihat: Jangan biasain berbuat salah tanpa mau dengar omongan orang baik, nanti kebiasaan buruk itu telanjur mengakar dan susah dibenerin.
Mau Salin Lirik Tembang ke Aksara Jawa?
Kalau guru muatan lokal minta bait tembang di atas ditulis tangan pakai huruf Jawa lengkap sama sandhangannya, kamu nggak usah repot mikirin rumus pasangan.
Buka Converter Latin ke Aksara Jawa GratisCopy lirik tembangnya, paste ke konverter kami, terus tinggal salin hasilnya ke lembar tugasmu.
Cek Rumus & Watak Tembang Pilihanmu
Lagi ngerjain soal dan cuma butuh ngecek rumus satu tembang tertentu? Pilih nama tembang macapat di bawah buat lihat baris sama vokal akhirnya:
Tembang Pocung
4 GatraRumus Paugeran: 12u, 6a, 8i, 12a
Watak Tembang: Santai, ceria, jenaka, cocok buat tebak-tebakan cangkriman.
Arti Daur Hidup: Fase jasad sudah dibungkus mori putih (dipocong).
Itu tadi 11 tembang macapat yang paling sering keluar pas ujian sekolah. Semakin sering kamu coba ngetuk hitungan suku kata di tiap larik tembang, maka makin cepet juga instingmu nangkep rumusnya — mirip kayak belajar nyetem senar gitar, awalnya kaku tapi lama-lama telinga sama jari langsung refleks sendiri.
Mau salin lirik tembang ke huruf Jawa tanpa pusing mikirin pasangan? Buka aja NulisAksara.id terus tempel liriknya di sana, gratis kok. Kalau nanti ada materi sastra daerah baru dari dinas pendidikan, halaman ini bakal langsung kami update.
Pertanyaan Umum (FAQ) Seputar Tembang Macapat
1. Apa yang dimaksud dengan tembang macapat?
Tembang macapat itu puisi tradisional Jawa yang terikat tiga aturan paugeran: guru gatra (baris), guru wilangan (suku kata), dan guru lagu (vokal akhir). Waktu tim NulisAksara riset naskah kuno, cara nembangnya selalu diputus per empat suku kata.
2. Ada berapa jumlah tembang macapat dan apa urutannya?
Jumlahnya pas 11 tembang, urutannya melambangkan perjalanan hidup dari kandungan sampai liang kubur: Maskumambang, Mijil, Sinom, Kinanthi, Asmaradana, Gambuh, Dhandhanggula, Durma, Pangkur, Megatruh, lalu Pocung. Urutan ini konsisten keluar di soal ujian sekolah.
3. Apa yang dimaksud guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu?
Gatra itu jumlah baris per bait. Wilangan itu hitungan suku kata tiap baris. Lagu itu bunyi vokal terakhir di ujung larik. Kami sering ingetin siswa: jangan sampai kebolak-balik antara wilangan sama gatra pas ujian!
4. Apa tembang macapat yang paling mudah dihafalkan?
Pocung paling gampang dihafal. Isinya cuma 4 baris dengan rumus 12u, 6a, 8i, 12a. Iramanya jenaka, santai, dan hampir selalu dipakai buat tebak-tebakan cangkriman seru bareng teman kelas.